Anggota Dewan: Masyarakat Jangan Dibiarkan Apoh-apah

ANGGOTA Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, Iskandar Usman Al Farlaky, mengatakan kerajinan tenun Aceh merupakan bagian dari ekonomi kreatif yang harus didukung semua pihak. Dalam hal ini, andil pemerintah sangat dibutuhkan baik untuk promosi, dukungan dalam bentuk modal dan pemberdayaan.

“Insya Allah di kesempatan mendatang kita akan sarankan agar ini menjadi kebanggaan bersama. Bisa saja diawali dengan memakai hasil tenun di hari kerja yang ditetapkan pemerintah Aceh. di daerah lain seperti Solo, kenapa bisa. Mengapa kita di Aceh tidak.” Kata Iskandar kepada atjehpost.co, Minggu, 4 Januari 2014.

Pemerintah, kata Iskandar, harus memikirkan lapangan kerja berbasis kewirausahaan. Termasuk bagi kalangan pemuda agar tidak terlalu bergantung pada harapan menjadi pegawai negeri sipil semata. Apalagi jumlah penerimaan CPNS setiap tahunnya tidak sebanding dengan jumlah lulusan perguruan tinggi di Aceh.

Progam-program kreatif masyarakat yang sudah ada katanya, seperti halnya kerajinan tenun di Desa Siem, Kecamatan Darussalam,  Aceh Besar, harus menjadi pintu masuk bagi pemerintah.

“Jangan malah dibiarkan berkarya sendiri dengan apoh-apah. Dinas terkait semisal Disperindag, Kop dan UKM, Badan Pemberdayaan Masyarakat, Biro Ekonomi, harus bergerak cepat menciptakan inovasi baru,” ujarnya.

Ke depan kata Iskandar, pihaknya akan terus memberi saran dan mengawal terkaitnya pentingnya pemberdayaan ekonomi kreatif di masyarakat. Menyangkut hal ini, Iskandar juga mengharapkan masukan dari berbagai pihak.

Anggota DPR Aceh lainnya, Abdullah Saleh, juga mengatakan sudah waktunya masyarakat diarahkan untuk menggeluti sektor riil, khususnya di sektor industri kreatif. Upaya ini harus melibatkan sinergi dari unsur pemerintahan, dunia usaha dan pendidikan.

“Banyak sektor ini yang belum tergarap. Sementara angkatan kerja semakin bertambah sementara daya serap masih sangat terbatas,” ujarnya.

Ia juga mengatakan perlu mencari tahu mengapa usaha tenun masyarakat Aceh tidak pernah maju-maju. Sementara pembinaan terus dilakukan pemerintah.

Sebelumnya diberitakan, peneliti tenun Aceh Erni S. Pd, M. Pd T, berharap pihak terkait menaruh perhatian serius pada tenun Aceh. Hal ini perlu dilakukan mengingat semakin sedikitnya para pengrajin tenun di sentra kerajinan tenun Aceh di Desa Siem, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar.

“Mungkin karena pergeseran zaman sehingga tradisi ini banyak dilupakan. Padahal kalau membaca sejarahnya begitu megahnya dulu songket Aceh, rasanya sayang sekali kalau sekarang mulai terabaikan, malah penduduk kita di sini nggak tahu di Aceh ada usaha tenun songket, apalagi di Siem pengrajinnya tinggal lima orang lagi, itupun tidak terlalu aktif lagi,” ujar Erni. (Baca: Peneliti Minta Pihak Terkait Jaga Eksistensi Tenun Aceh).[]

  • Uncategorized

Leave a Reply