Alumnus Pentagon Sekjen Partai Aceh

BERBALUT setelan hijau khas pegawai negeri sipil, di jari manis tangan kanannya tersemat cincin bermata putih bening. Telunjuk dan jempolnya tak bergerak, seperti palsu. "Menjadi cacat setelah tertembus peluru," kata pria bernama Mukhlis Basyah kepada wartawan The Atjeh Times yang ngopi bersamanya di kedai kopi Dua Saudara, Samahani, Aceh Besar, Senin pekan lalu.

Kini dua jari cacat karena perang itu menjadi ciri khas si pemilik warung yang kini adalah Bupati Aceh Besar.

Nama pria yang akrab disapa Aduen Mukhlis kini makin meroket setelah didapuk sebagai Sekretaris Jenderal Partai Aceh pada Sabtu dua pekan lalu. Partai Aceh memang sebuah partai lokal yang didirikan oleh tokoh-tokoh Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Di sini para mantan kombatan meniti karier politik. Masuk akal jika kemudian dia dipilih menjadi Sekretaris Jenderal Partai Aceh.

Sejenak dia diam. Dua jarinya yang telah cacat itu membuatnya mudah memutar memori kilas balik sebuah peristiwa saat Aceh menjadi kawasan Darurat Militer pada 2003. "Waktu itu, TNI memblokade kawasan hutan yang menjadi basecamp GAM dengan perkampungan," katanya.

Dia ingat, saat itu sedang berada di Pegunungan Siron, Cot Glie, Kuta Malaka, Aceh Besar. Di sini ada sebuah lokasi yang mereka namakan Pentagon. Namun, Pentagon Cot Glie tak ada hubungannya dengan markas tentara di Amerika sana. Ini hanya kata sandi bagi sesama tentara GAM untuk menyebut lokasi mereka latihan perang di Cot Glie itu.

Benar, Pentagon memang menjadi markas Aduen Mukhlis. Di sinilah dia jungkir balik sambil membidik bedil. Hingga suatu malam buta 12 Juli 2005, Aduen Mukhlis mendapat tugas turun gunung bersama temannya. "Kami mau cari logistik," katanya. Saat itulah dia beradu bedil dengan tentara hingga tangannya cacat terkena tembakan.

Berselang 33 hari setelah peristiwa itu, perjanjian damai Helsinki diteken. Aduen Mukhlis beraktivitas di dunia politik menjadi Ketua Partai Aceh Wilayah Aceh Besar sejak 2009. Pada pilkada 2012, dia terpilih menjadi Bupati Aceh Besar.

***

Telepon selulernya berdering pada Sabtu tengah malam 16 Maret lalu. Saat itu Aduen Mukhlis sedang larut dalam kenduri perkawinan salah seorang anggota Komite Peralihan Aceh (KPA). Nah, nomor telepon yang muncul di layar selulernya tak lain adalah milik orang nomor satu di KPA, yaitu Muzakir Manaf yang juga Wakil Gubernur Aceh.

Jadi tak heran jika sesibuk apa pun, Aduen Mukhlis pasti akan menjawab sambungan telepon pria yang disapa Mualem itu. "Apa kabar, sedang di mana," Aduen Mukhlis mengutip percakapannya dengan Mualem. "Alhamdulillah, ini sedang di kampung, ada khanduri."

"Setelah itu beliau langsung mengatakan bahwa Majelis Tuha Peut telah menetapkan saya sebagai Sekjen Partai Aceh," katanya. Ini kabar yang mengejutkan bagi Aduen Mukhlis. Tak pernah terlintas dalam benak Aduen Mukhlis untuk jabatan setinggi itu.

Tak pernah pula dia menyinggung soal jabatan dalam setiap pembicaraan dengan Mualem, atau dengan Gubernur Aceh Zaini Abdullah yang merupakan Tuha Peut Partai Aceh. "Kami hanya bicara soal pemerintahan, dan jika menyangkut Partai Aceh hanya sebatas di wilayah saya saja," katanya.

Itulah sebabnya, Aduen Mukhlis berkata, "Ini jelas tugas yang berat." Namun, Mualem menjelaskan padanya segala sesuatu itu jika dilaksanakan bersama-sama dalam keharmonisan, akan berjalan dengan mudah.

Setelah itu, Mualem menyuruhnya datang ke Meuligoe Wakil Gubernur di Banda Aceh. Setelah pamitan pada warga di tempat khanduri, dia langsung ke Meuligoe Wakil Gubernur Muzakir Manaf. Di sana sudah ada petinggi Partai Aceh. Selain Mualem, ada Kamaruddin Abubakar atau Abu Razak, Ilyas Abed, dan juga Darwis Jeunieb. Mualem langsung menunjukkan surat pengangkatannya. "Ini amanah yang berat bagi saya, tapi saya siap menjalankannya," ujar Mukhlis.

Setelah bertemu di Meuligoe dengan Wakil Gubernur, kata Mukhlis, rapat kembali berlanjut pada Minggu pagi, 17 Maret 2013. Kali ini rapat dihadiri jajaran petinggi Partai Aceh di kantor Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh di Simpang Dodik dan juga di Meuligoe Gubernur Aceh.

***

Partai Aceh sudah membentuk susunan pengurus harian lengkap setelah rapat Tuha Peut Partai Aceh pada Sabtu 16 Maret 2013 di Banda Aceh. Dalam rapat itu selain diputuskan Mukhlis Basyah sebagai Sekretaris Jenderal Partai Aceh, kepengurusan baru juga diisi oleh Kamaruddin Abubakar atau Abu Razak. Ia ditunjuk sebagai Wakil Ketua Umum Partai Aceh. Di posisi wakil ketua umum juga ada Darwis Jeunieb, Kamaruddin, Zulkifli Amin, dan Hj. Mariati.

Sedangkan posisi Sekretaris Jenderal dibantu enam Wakil Sekretaris Jenderal: Jufri Hasanuddin, Mirza Ismail, Darmawati, Ilyas Abed, Atqia Abubakar, dan Asyari Syahkubat. Adapun posisi bendahara umum dipegang Hasanuddin Sabon. Wakilnya Mawarni dan Yasir Abdullah.

Susunan pengurus harian dilantik pada Minggu 24 Maret 2013. "Setelah pelantikan nanti kita akan susun berbagai kegiatan kepartaian. Tentu tahap awal adalah menyambut pemilu 2014 ini," kata Abu Razak.

Jajaran Partai Aceh di Aceh Barat Daya mendukung terpilihnya Mukhlis Basyah sebagai Sekjen Partai Aceh. Ketua PA Aceh Barat Daya, M. Nazir, berharap Partai Aceh semakin baik ke depan. "Saya yakin dengan Aduen Mukhlis, apalagi beliau seorang Bupati Aceh Besar,” ujar M. Nazir, Senin pekan lalu.

Juru Bicara Tuha Peut Partai Aceh, Zakaria Saman, juga mengucapkan selamat kepada pengurus baru Partai Aceh. "Sekarang waktunya bekerja bagi mereka. Kita harapkan pengurus baru mengutamakan kepentingan masyarakat Aceh daripada kepentingan pribadi, sebab ini Partai Aceh, bukan partai pribadi."

***

ANGIN semilir berhembus ke muka kedai roti selai Dua Saudara. Seorang pengurus Partai Aceh datang menemui Mukhlis, menyodorkan sebuah surat. "Itu surat pertama yang saya teken atas nama Sekjen Partai Aceh, tentang pemberitahuan pengurus baru kepada Departemen Hukum dan HAM," ujar Muklis kepada The Atjeh Times, Senin pekan lalu.

Kini Mukhlis siap menjalankan amanah baru itu. Ia berharap mendapat dukungan dari seluruh kader dan seniornya di Partai Aceh. "Saya yang baru ini berharap beliau-beliau dapat mengajarkan saya yang terbaik. Wali, Doto (Zaini), Mualem, Bang Darwis, dan yang lain supaya mengajari saya," ujar pria berusia 42 tahun ini.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply