Al-Muslim Bireuen gelar seminar internasional Islam dan politik

UNIVERSITAS Al-Muslim, Bireuen menggelar Seminar Internasional bertema “Islam dan Politik di Indonesia” di aula MA Jangka, Sabtu 4 Mei 2013. Seminar tersebut diikuti 500 peserta dari berbagai kalangan masyarakat Bireuen dan Aceh Utara.
 
Seminar diprakarsai Lembaga Penerbitan Pers Mahasiswa (LPPM) Universitas Almuslim, bekerja sama dengan Rumah Pintar Peusangan (RP2),  Arizona State University dan INA Frontier. Panitia menghadirkan empat pemateri, yakni Prof. Mark R. Woodward dari Arizona State University, Amerika, dan Dicky Sofjan, Ph.D dari Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS), Sekolah Pascasarjana UGM, Yogyakarta.

Selain itu juga Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, Ph.D dari IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh dan Inayah Rohmaniyah, M.Hum, M.A, Ph.D (abd) dari UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Selain nama diatas, turut hadir Wali Kota Lhokseumawe yang diwakili Kadis Syariat Islam dan Dosen STAIN Malikussaleh & Direktur Eksekutif The Finiqas Institute, Danial MA, yang bertindak sebagai Discusssant.
 
Ketua panitia pelaksana, Rahmad, mengatakan seminar ini bertujuan memberikan pemahaman kepada seluruh elemen masyarakat, mahasiswa dan akademisi tentang penerapan Syariat Islam di Aceh, dan perbandingan dengan penerapan syariat Islam di Malaysia dan Iran.

“Begitu banyak hal yang menjadi kesenjangan antara politik dan Islam di Indonesia, khususnya Aceh yang kini sudah hampir 11 tahun diteriakkan sebagai negeri syariat, pasalnya pelanggaran Syariat Islam terus menerus terjadi, bahkan semakin vulgar,” katanya.

Katanya, seminar itu menjadi sangat menarik mengingat fenomena Islam dan politik yang terjadi saat ini, dimana umat Islam dalam kehidupan modern ini menjadi terasing dan alergi bahkan salah mengartikan politik atau institusi politik.

Seminar dibuka Rektor Universitas Almuslim Dr H Amiruddin Idris, SE, MSi. Rektor menyambut baik seminar tersebut. Harapannya semoga dapat menjadi acuan bagi semua pihak dalam pelaksanaan Qanun Syariat Islam di provinsi yang berjuluk Serambi Mekkah itu.

“Gema pelaksanaan Syariat Islam di Aceh sangat mengagungkan bagi orang di luar Aceh padahal pelaksanaannya di Aceh sendiri masih cukup banyak mengalami kendala dalam mengimplementasikan qanun syariat yang sudah lama disahkan,” ujar Amiruddin. [](ma)

  • Uncategorized

Leave a Reply