Aksi Rocky Membuka Isolasi

Tiga puluh alat berat dikerahkan membuka akses kawasan terisolasi. Ini salah satu program kerja 100 hari Bupati Aceh Timur
_______________________________________

ROCKY melompat ke mobil Double Cabin. Dari Meuligoe Bupati Aceh Timur, mobil ini meluncur ke Idi Tunong, sekitar 6 kilometer dari ibu kota kabupaten. “Kita akan lihat pekerjaan jalan dan normalisasi saluran air di daerah pedalaman,” kata Rocky, panggilan akrab untuk Hasballah M. Thaeb, Bupati Aceh Timur.

Setiba di jantung Kecamatan Idi Tunong, mobil tunggangan Rocky dibuntuti tiga mobil lain, menembus Gampong Paya Awee, Rabu, 10 Oktober 2012, sore. Saat melihat pelebaran jalan oleh Motor Grader, Rocky tampak senang. Senyumnya  mengembang.

Ia kemudian tancap gas ke Gampong Lhok Dalam. Di sini ia melihat alat berat becho mengerjakan perbaikan alur sungai gampong itu. “Rehab jalan, jembatan, dan normalisasi saluran-saluran ini adalah bagian dari program kerja seratus hari kita,” kata Rocky kepada The Atjeh Times di lokasi itu.

Jalan berukuran sempit, diperlebar. Di lokasi lain dibuka jalan baru yang menghubungkan sejumlah gampong. Kiri dan kanan jalan dikeruk membentuk parit. “Agar kalau hujan air tidak tergenang di badan jalan,” kata seorang pekerja. 

Alur sungai yang dangkal dikeruk. Selama ini, warga setempat mengaku sering terkena banjir jika musim hujan tiba. Penyebabnya, ya itu tadi, saluran air yang ada telah dangkal akibat tumpukan lumpur.

Pelebaran jalan, rehabilitasi jembatan, dan alur sungai berlangsung di lima gampong pelosok Aceh Timur. Selain Paya Awee dan Lhok Dalam, juga Gampong Paya Gabah, Seuneubok, serta Padang Kasah.

“Kita menurunkan 30 alat berat ke gampong-gampong yang terisolasi untuk membuka akses jalan dan normalisasi saluran. Dan, seperti yang kita lihat, sebagian alat berat sudah bekerja di lapangan,” kata Bupati Rocky.

Tiga puluh alat berat itu ialah 15 unit Motor Grader, 10 Excavator, dan 5 Bulldozer. “Biaya untuk menyewa alat berat itu, termasuk operasional di lapangan, sekitar Rp9 miliar,” kata orang nomor satu di pemerintahan Aceh Timur ini. “Pekerjaan ini harus tuntas sebelum sampai seratus hari masa kerja kami”.

Tahap berikutnya, menurut Rocky, jalan yang telah diperlebar itu akan dilakukan pengerasan pada tahun anggaran 2013.

Untuk mengawasi pekerjaan di lapangan, Pemerintah Aceh Timur telah menugaskan tenaga teknis dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan petugas di kecamatan. Pengawasan juga dilakukan Bupati dan Wabup.

“Kita sudah minta jajaran dinas terkait dalam rangka menyukseskan program kerja seratus hari pertama ini agar melakukan rapat evaluasi setiap pekan pada hari Jumat sehingga kalau ada kendala bisa segera diantisipasi,” ujar Rocky.

Rocky mengingatkan petugas di lapangan untuk tidak menyewakan atau meminjam-pakai alat berat itu kepada siapa pun. Sebagai Bupati, ia tidak segan-segan menindak para pekerja ataupun petugas pengawasan di lapangan apabila melakukan hal itu.

Lantas, apa saja program lainnya dalam masa seratus hari ini? Beberapa di antaranya, menurut Rocky, pemindahan aktivitas perkantoran Pemerintah Aceh Timur dari Langsa ke ibu kota kabupaten ini, yaitu di Titi Baro, Idi. Selain itu, menginventarisasi sarana dan prasarana pendidikan, termasuk dayah, serta sarana dan prasarana kesehatan.

“Kita juga melakukan evaluasi kinerja seluruh SKPK (Satuan Kerja Perangkat Kabupaten) mengenai pelaksanaan pembangunan infrastruktur dan program-program yang berhubungan dengan masyarakat. Kini saatnya kita benahi semua untuk memajukan Aceh Timur,” kata Rocky.

***

Amfibi, begitu sapaan akrab untuk Fadil Muhammad. Anggota DPRK Aceh Timur ini mengapresiasi kebijakan Bupati Hasballah M. Thaeb membuka kawasan terisolasi dengan membangun jalan dan jembatan di pedalaman kabupaten itu.

“Masyarakat patut bersyukur, apa yang selama ini ditunggu-tunggu dari pemerintah mulai direalisasikan. Masyarakat sangat tersentuh dengan pembangunan ini, yang merupakan salah satu program kerja seratus hari Bupati Hasballah M. Thaeb dan Wakilnya Syahrul Syamaun,” kata Amfibi yang juga Sekretaris Partai Aceh Kabupaten Aceh Timur kepada The Atjeh Times, Rabu pekan lalu.

Pembangunan jalan, jembatan, normalisasi alur sungai, dan pembukaan jalan baru di gampong-gampong pelosok Aceh Timur, menurut Amfibi, akan menjadi urat nadi perekonomian masyarakat setempat. Sebelumnya, masyarakat telah menunggu puluhan tahun untuk pembangunan kawasan itu, tetapi pemerintah selalu berdalih tidak ada anggaran.  

“Bupati dan Wabup Aceh Timur yang baru langsung merespons aspirasi masyarakat setempat. Ini menunjukkan sikap pemimpin yang dekat dengan rakyat. Dan, kami dari Partai Aceh mendukung penuh program pembangunan infrastruktur publik yang seperti ini. Rakyat berhak memperoleh hasil pembangunan,” kata mantan Komandan Operasi Sagoe Simpang Ulim ini.

Amfibi mencontohkan, Gampong Kuala Simpang Ulim dan Gampong Teuping Breuh, Kecamatan Simpang Ulim, selama ini terisolasi lantaran jalan dan jembatan di daerah itu rusak parah tanpa perhatian pemerintah. “Masyarakat di sana kesulitan menjangkau pusat ibu kota kecamatan,” kata dia. “Dua gampong itu juga sering jadi sasaran banjir”.

Iqbal, 28 tahun, warga Gampong Padang Kasah, Idi Tunong, mengatakan, akses jalan yang dibuka di kawasan pelosok itu amat menguntungkan masyarakat karena ke depan bisa dengan mudah mengangkut hasil perkebunan. “Banyak sawit dan karet di daerah ini. Dulu kami kesulitan membawa hasil produksi ke kota karena hanya ada jalan setapak. Sekarang sudah dibuka agar bisa masuk mobil,” kata petani ini.

Harapan masyarakat Aceh Timur, perubahan ke arah yang baik mulai tampak lewat program seratus hari bupati-wabup terpilih hasil pilkada 2012. Amfibi berharap ke depan pemerintah daerah merealisasikan lebih banyak lagi program pembangunan yang menyentuh langsung kebutuhan rakyat di gampong-gampong. Kata Amfibi, “Mari kita utamakan kepentingan rakyat”.[]

Berita terkait:
Kombatan Double Gardan yang Jadi Bupati

  • Uncategorized

Leave a Reply