Ajudan Juga Pembisik

TENTU kita belum lupa dengan istilah budak, dan Rasul adalah orang pertama yang  memerdekakan permbudakan di tanah Arab. waktu itu budak adalah orang yang diperjual belikan oleh bangsawan-bangsawan dan orang-orang kaya arab untuk diperkerjakan atau dipakai sesuka hati mereka.

Budaya perbudakan ternyata tidak saja ada di tanah arab dan eropa,  nusantara sendiri juga memilikinya, katakanlah Aceh.

Di Aceh, walau saat ini garis pembatas antara budak dan raja sudah samar-samar, tetapi dilihat dalam kehidupan sehari-hari terkadang itu muncul tanpa disadari.  Dalam bahasa aceh tidak lagi disebut sebagai budak melainkan sebagai “lamiet”.

“Bangsa aceh bangsa teuleubeh ateuh rung donya” masih ingat bukan dengan kalimat ini?  kalimat yang selalu diteriakan oleh juru penerangan eks TNA sebelum perjanjian damai ditandatangani, kalimat ini biasa dipakai untuk mengobarkan semangat rakyat aceh agar  tidak mau ditindas layaknya lamiet oleh Indonesia.

Dalam bahasa yang lebih umum lamiet bisa kita katakan sebagai pembantu. Dahulu pembantu itu sangatlah hina, berbeda dengan sekarang, istilah pembantu sudah biasa kita dengar dan sudah menjadi bagian dari profesi, sebut saja pembantu rumah tangga, baby sister, sopir, satpam, dan lain-lain.

Pada dasarnya pekerjaan mereka tidak jauh berbeda dengan pekerjaan para budak pada zaman penjajahan. Tetap saja melayani kebutuhan majikan dan para tuan. Jika para tuan itu tidak faham dengan UU HAM, atau pura-pura tidak tahu, mungkin nasib pembantu-pembantu ini bisa melebihi nasib para budak tempo dulu. Dalam istilah yang lebih ilmiah, pembantu bisa dikatagorikan sebagai ajudan.

Menurut Tesaurus Bahasa Indonesia ajudan itu adalah asisten, kepercayaan, pembantu, pendamping, pengapit, tangan kanan.  Hanya ada perbedaan tipis antara pembantu, budak dan ajudan. Mungkin pada penempatan semata, kalau pembantu di tempatkan di dapur atau di bagian rumah tangga, kalau ajudan di kantor atau di ruangan umum lainnya. Jika dilihat secara keseluruhan semua istilah itu tidak ada perbedaan,  mereka tetap saja orang suruhan para pejabat atau majikan. Jika dia ajudan gubernur atau ajudan wakil gubernur maka pekerjaannya melayani segala kebutuhan Gubernur dan Wagub, seperti menjijing tas, mengantar dokumen, membuka pintu mobil, dan sebagainya yang diperintahkan.

Ajudan  atau pembantu, pada dasarnya sangatlah dibutuhkan, Rasul sendiri begitu menghargai pembantu-pembantunya, menyayangi mereka melebihi dirinya sendiri. Bahkan Rasul berpesan kepada kita, agar membayar gaji pembantu sebelum keringat mereka kering, begitu besarnya perhatian Rasul terhadap seorang pembantu, Rasul tidak pernah menghinakan pekerjaan mereka.

Dalam pemerintahan, posisi ajudan atau pembantu salah satu posisi yang diperebutkan. Walau mereka tahu ajudan itu tak lebih dari seorang suruhan. Tetap saja merasa bangga bisa menjadi ajudan

Saya sendiri heran dengan kondisi ini, satu sisi kita selalu berkata kalau bangsa Aceh itu bangsa teulebeh ateuh rung donya, bangsa aceh itu bukan bangsa lamiet, tetapi di sisi lain kita rebut-rebutan untuk menjadi lamiet (ajudan), atau jangan-jangan Aceh ini sebenarnya memang biek lamiet?

Kalau bukan, lantas kenapa bisa bangga menjadi ajudan? Kenapa rebut-rebutan pada posisi ajudan/pembantu?, aneh ya?.

Biasanya raja itu tidak akan berkata dia raja, dan lamiet itu juga tidak akan mengakui dia lamiet, kecuali dalam kondisi terjepit. Begitu juga kita saat ini, kita tidak mau mengakui diri sebagai biek lamiet karna bisa saja kita ini benar-benar biek lamiet.

Jika posisi kita lamiet rakyat seperti yang pernah diutarakan oleh wagub terpilih muzakir manaf , tentu saja kita bangga, tetapi kalau menjadi lamiet gubernur dan wakil gubernur atau lebih tepatnya lamiet penguasa, pantaskan kita berbangga? Wallauhualam.

Jawabannya ada pada hati nurani kita masing-masing, yang jelas apapun istilahnya, menjadi orang terdekat Gubernur dan Wagub adalah sesuatu yang dicari dan dinanti.  Betapa bodohnya kita jika Gubernur atau Wagub meminta kita untuk menjadi ajudan dan kita menolaknya.

Sekarang ini, ajudan itu bukan saja tukang jinjing tas, tetapi juga orang yang bisa membisikkan apa saja kepada gubernur dan wakil gubernur.

Pembisik itu memiliki peran luar biasa dalam hal ikwal pemerintahan. sukses tidaknya seorang pemimpin membawa arah kepemimpinannya sangat tergantung kepada orang-orang terdekatnya seperti ajudan yang kebanyakan juga merangkap sebagai tukang bisik (tim sah).

Jika orang-orang terdekat ini hanya bekerja sebatas kepentingan pribadinya saja seperti para ajudan yang sudah pernah kita lihat sebelumnya, maka jangan pernah bermimpi kepemimpinan akan sukses dan sesuai dengan harapan rakyat.

Bagi saya ajudan itu harus tahu benar posisinya sebagai ajudan, dalam bahasa kasarnya “thee droe”, seorang ajudan itu juga harus memiliki pemahaman tentang ilmu pemerintahan, mengenal atau tidak asing dengan  gubernur dan wakil gubernur yang akan didampinginya, dan yang lebih penting jujur serta  amanah (ken pancuri dan penghasut). Jangan sampai klaim raja-raja tuan tanah tempo dulu bahwa “lamiet nyan han jet tapateh” terbukti.

Jadilah ajudan yang bisa mengajak gubernur dan wakil gubernur untuk bersama-sama membawa aceh ke arah yang lebih baik, bukan menarik mereka ke dalam lembah kegelapan yang sewaktu-waktu bisa membahayakan aceh dan diri mereka sendiri di masa mendatang.

Sehingga keberadaan anda sebagai ajudan/pembantu atau pembisik benar-benar bisa dihargai dan dihormati, buktikan kalau persepsi orang-orang terdahulu bahwa lamiet itu tidak bisa dipercaya tidaklah benar adanya karna pada dasarnya Lamiet dan tuan sama-sama makluk Tuhan yang memiliki kesempatan yang sama dalam urusan keburukan dan juga kebaikan.

Penulis: Cut Meutia, akrab disapa Farah, adalah Ibu Rumah Tangga

  • Uncategorized

Leave a Reply