Adat Pantangan Melaut Nelayan Tradisional Aceh

MASYARAKAT nelayan Aceh memiliki beberapa pantangan dalam melaut. Pantangan ini sudah menjadi adat yang hingga kini masih dipertahankan oleh masyarakat pesisir di Lhokseudu, Kecamatan Leupung, Aceh Besar.

Kebiasaan yang juga menjadi pantangan utama bagi nelayan Lhokseudu adalah tidak melaut di musim barat. Pasalnya di musim ini nelayan akan susah memperoleh ikan lantaran laut tidak stabil seperti ombak besar, hujan deras dan badai.

Selain itu, masyarakat nelayan di Lhokseudu juga tidak pernah mengangkat sauh pada malam Jumat. Para nelayan tradisional Aceh sejak dulu tidak melaut pada malam hingga hari Jumat karena pada hari tersebut dikhususkan untuk beribadah. “Biasanya dikenal sebagai istilah si minggu mita, si uroe pajoh,” kata Rawiah, 42 tahun, salah satu warga dari keluarga nelayan, Sabtu, 28 Februari 2015.

Selain itu, terdapat juga pantangan tiga malam tidak diperbolehkan melaut setelah Kenduri Lhoek. Kenduri Lhoek merupakan agenda tahunan yang dilakukan dengan menyembelih kerbau.

“Tidak boleh hewan lain yang disembelih, mesti kerbau dikarenakan reusam dari nenek moyang pada zaman dahulu,” kata Fajri, salah satu nelayan.

Menurut Fajri kebiasaan Kenduri Lhoek dilakukan pada awal tahun di musim timur.

Pantangan terbaru untuk melaut juga berlaku pada malam 26 Desember setiap tahunnya. Hal ini disebabkan masyarakat pesisir ikut memperingati musibah tsunami yang pernah memporakporandakan wilayah Leupung pada 2004 lalu.

"Selain pantangan, terdapat pula malam dimana para nelayan tidak melaut. Biasanya bak buleun peungeuh yang diartikan terangnya bulan. Dikarenakan tiap-tiap paloeng nelayan terdapat lampu untuk membuat ikan berkerumunan di bawah cahaya sinar lampu, namun bila bulannya terang lampu tidak berguna, seluruh laut yang terbentang luas terang, jadi ikan tidak merapat ke paloeng-paloeng nelayan," ujar Fajri. (Baca: Mengenal Lebih Dekat Nelayan Tradisional Aceh).[] Laporan: Zahratil Ainiah

  • Uncategorized

Leave a Reply