Aceh terbuka sebagai basis produksi kakao di Indonesia

PELUANG menjadikan Aceh sebagai basis produksi kakao di Indonesia wilayah barat sangatlah terbuka. Sebab ada sekitar  120.000 hektare lahan tidur yang potensial untuk dimanfaatkan. Potensi tersebut yang diharapkan dapat dikembangkan,  sehingga Aceh bisa menjadi lumbung kakao nasional.

Demikian hal tersebut dikatakan  Asisten II Setda Aceh Bidang Ekonomi, Said Mustafa saat mewakili Gubernur Aceh membuka acara Duek Pakat Petani Kakao Aceh I (DPKA)– Forum Kakao Aceh yang digelar di Aula Asrama Haji Banda Aceh, kemarin Sabtu, 29 Juni 2013.

Kata dia, saat ini kebutuhan kakao di dalam negeri mencapai  400 ribu hingga 600 ribu ton per hari dan kebutuhan dunia mencapai tiga juta ton per tahunnya.

“Impian ini bukanlah terlalu berlebihan, sebab potensi pertanian Aceh cukup menjanjikan. Sumbangan sektor pertanian untuk PDRB Aceh mencapai di atas 40 persen,” ujar Sadi Mustafa.

Menurut Said Mustafa, kakao juga merupakan salah satu komoditi yang bisa diandalkan di Aceh. Hal itu karena mengingat Aceh memiliki lahan pertanian kakao terbesar di Sumatera. Luas areal perkebunan kakao Aceh berkisar 72. 773 hektar,  yang melibatkan sekitar 220.000 petani.

"Produksi Kakao Acehmasih berada di peringkat ketiga  di Sumatera,” katanya.

Hadir dalam acara Duek Pakat Petani Kakao Aceh I (DPKA), Direktur Tanaman Rempah dan Penyegar Kementan RI, Ir.H.Azwar Ab, M.Si sebagai Keynote Speaker, Ketua Forum Kakao Aceh Hasanuddin Darjo, instansi terkait, unsur BKPLuh Aceh, unsur BPTP Aceh, Perwakilan Disbun, Perhiptani, Perbankan, KTNA, Swiss Contact, SCPP, dan diikuti ratusan anggota Forum Kakao Aceh.[] (mrd)

  • Uncategorized

Leave a Reply