Aceh, Kisah Kegemilangan yang Tercecer

Aceh, Kisah Kegemilangan yang Tercecer

KEMARIN kami meluncurkan sebuah program baru yaitu kajian dwimingguan bertajuk KIPaS atau Kajian Inspiratif Portal Satu. Program ini sudah kami rancang sejak awal media ini hadir. Hanya saja program perdananya baru bisa kami laksanakan kemarin. Lewat program ini kami ingin menghadirkan pihak-pihak terkait untuk menyamakan persepsi agar ke depan bisa saling bersinergi.

KIPaS perdana mengangkat isu Penyelamatan Situs Cagar Budaya Aceh. Banyak hal menarik mencuat dalam diskusi kecil ini. Karena yang berbicara adalah pakar, praktisi dan juga pengambil keputusan.

Salah satu yang menarik adalah fakta bahwa Aceh merupakan sebuah negeri yang besar. Diperhitungkan dalam percaturan dunia. Sekali lagi dunia. Bukan di tingkat regional. Aceh pernah menjadi saksi kemerdekaan bagi bangsa lain. Aceh punya sejarah panjang yang menceritakan lika-liku kegemilangan sebuah bangsa. Satu-satunya bangsa yang tidak tersentuh penjajah sampai pada akhir abad 18. Padahal semua kerajaan lain sudah takluk sejak abad 15.

Itu hanya sedikit dari banyak cerita menarik lain. Satu hal yang perlu disadari bahwa kegemilangan itu kini terhapus. Aceh kini menjadi sebuah negeri baru dengan segala inferioritasnya. Aceh berubah menjadi negeri yang tidak punya lagi kebanggaan. Penuh carut marut. Kehilangan harga diri.

Yang paling mudah terlihat misalnya, pemerintah pusat memberi Aceh banyak keistimewaan. Tapi apa yang bisa kita manfaatkan? Lihat buku sejarah di sekolah-sekolah, adakah yang bercerita tentang sejarah Aceh? Apakah generasi muda kita tahu tentang sejarah kegemilangan negerinya. Atau mungkin mereka lebih mengenal sejarah negeri yang lain. Salah siapa?

Kita tak mungkin menyalahkan orang lain dalam hal ini. Kita lupa dan tidak mau bercerita kepada anak cucu kita mengenai hal itu. Tidak ada kumpulan literasi yang bisa diwariskan untuk generasi kita. Tidak ada bukti-bukti Aceh pernah menjadi bangsa yang hebat.

Sepuluh tahun terakhir Aceh malah menjadi teramat khusus. Lucunya di masa kita mendengungkan sesuatu yang serba gemilang. Kenyataannya kini tidak berbeda dengan daerah lain yang tidak berjuluk otonomi khusus. Terlalu banyak wacana. Banyak konsep tapi enggan mewujudkan.

Dalam sistem pendidikan kita, terselip muatan lokal yang tidak jelas. Bahasa ‘ibu’ kita pelan-pelan menghilang. Kita tak pede berbicara dengan bahasa lokal dengan anak atau cucu kita. Sekolah kegamangan dalam memperkenalkan budaya dengan segala pernak-pernik kekhususan Aceh.

Kita sering menyalahkan orang lain atas kegagalan kita. Padahal pemerintah pusat memberi Aceh kewenangan yang begitu luas. Ada generasi yang mungkin lupa ada yang perlu mereka sadari, bahwa kegemilangan itu harus ditunjukkan. Agar generasi muda bisa belajar untuk kembali mewujudkan kegemilangan itu di masa berikutnya. Kebanggaan pada kegemilangan masa lalu harus menjadi pelecut meraih kegemilangan masa depan.[]

Leave a Reply