Aceh Jadi Model Penanganan Bencana Dunia

BANDA ACEH – Peneliti dari berbagai belahan dunia sepakat Provinsi Aceh dijadikan model penanganan bencana dunia karena mereka kagum dengan rehab rekon daerah itu setelah terjadi gempa dan tsunami 26 Desember 2004.

"Para peneliti dari berbagai belahan dunia kagum dengan cara penanganan gempa dan tsunami di Aceh, sehingga mereka sepakat menjadikan Aceh sebagai model penanganan bencana dunia," kata Ketua Pusat Studi Adat Laot dan Kebijakan Perikanan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh M Adli Abdullah di Banda Aceh, Selasa.

Kesepakatan itu disampaikan pada acara Simponsium Internasional pada Visi Masa Depan untuk Manusia dan Makhluk Laut Setelah Restorasi dari Bencana di Universitas Tokyo selama dua hari (14-15 Mei 2012).

Lembaga penelitian di bidang isu-isu kelautan di Universitas Tokyo bekerjasama dengan badan PBB FAO Roma mengadakan simponsium yang dihadiri ratusan peneliti dari berbagai belahan dunia.

Adli yang menjadi salah satu utusan dari Aceh itu menjelaskan simponsium ini untuk mengumpulkan isu-isu penanganan kelautan dan masyarakat pesisir dan mempelajari kelemahan-kelemahan dalam penanganan bencana. 

Sebagaimana diketahui, bencana alam di Aceh (2004), Katrina Amerika Serikat (2008), Chile (2010), Tohoku Japan (2011) banyak warga pesisir yang menjadi korban dan perlu perhatian utama kepada mereka. 

Dalam salah satu rekomendasi, peserta meminta negara-negara dan lembaga international belajar pada baik-buruk penanganan bencana, katanya.

"Kita mesti menghindari korban tidak boleh dijadikan obyek bantuan, penyelewengan bantuan harus diawasi ketat serta menghormati adat dan budaya masyarakat setempat dalam penanganan bencana," papar Adli.

Selama dua hari simponsium terungkap bahwa dalam 10 tahun terakhir ini terjadi tiga bencana besar dunia yaitu Aceh (2004), Chile (2010) dan Tohoku (2011). 

Bahkan di Jepang walaupun korban jiwa tidak separah Aceh tetapi rusaknya fasilitas nuklir Fukushima menimbulkan keresahan masyarakat dunia terhadap merebaknya penggunaan teknologi nuklir di dunia saat ini. 

Setelah gempa bumi dan tsunami pada 11 Maret 2011, Jepang memutuskan menutup seluruh fasilitas nuklir karena radiasi nuklir membahayakan kelangsungan manusia melebihi bom Hiroshima dan Nagasaki, katanya.

Simponsium ini menghadirkan narasumber Lahsen Ababouch (UNFAO, Rome), Hisashi Kuro Kura (University Tokyo), Tamaki Ura (Direktur UT Ocean Alliance), Robert Thomson (University of Rhode Island), M Adli Abdullah (Syiah Kuala University), John Kurien (Center for Development Studies, India), Ichiro Nomura (UN FAO) dan Yograj Yadava (Bay of Benggal Program).

Simponsium ditutup oleh John Kirby dari University of Rhode Island Amerika Serikat yang meminta perlunya kerja sama jangka panjang antar lembaga pemerintah dan badan-badan international dengan lembaga penelitian kelautan agar dalam setiap kebijakan politik yang diambil, kepentingan masyarakat yang mendiami pesisir pantai lebih diutamakan dari pada kaum industriawan yang punya akses lebih baik dengan kekuasaan. | sumber: antaranews.com

  • Uncategorized

Leave a Reply