Aceh Barat Daya Gagas Tiga Proyek Monumental

BUPATI Aceh Barat Daya Jufri Hasanuddin bertekad lima tahun ke depan, kabupaten ini diperhitungkan sebagai daerah penting di Pantai Barat Selatan Aceh. 

Hal itu dikatakan Bupati Jufri saat membuka Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) tingkat Kecamatan Susoh, Senin 23 Februari 2015, yang digelar di gedung pertemuan Susoh.

Untuk menjadi daerah penting, kata Bupati Jufri, Aceh Barat Daya harus membangun beberapa infrastruktur yang monumental sebagai pendukung. “Kita akan mulai pembangunan Pelabuhan Teluk Surin, jalan dua jalur, dan pasar modern,” ujar bupati.

Pelabuhan Teluk Surin, kata Jufri Hasanuddin, sesuai dengan program tol laut yang digagas Presiden Jokowi dalam Nawacita. Bahkan, kata dia, pembangunan pelabuhan sudah digagas sejak lama sebelum Jokowi menjadi presiden.

Beberapa waktu lalu di Istana Bogor, kata Bupati Jufri, di depan Presiden Jokowi ia memaparkan pentingnya kehadiran Pelabuhan Teluk Surin. “Posisinya berhadapan langsung dengan Samudera Hindia. Selama ini jalur transportasi laut lebih banyak melewati Selat Malaka dan jalur laut di sana sudah padat. Untuk mengurainya perlu dibangun pelabuhan di Samudera Hindia,” ujar Jufri Hasanuddin.

Pelabuhan Teluk Surin telah ditetapkan dalam Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN) sesuai surat Menteri Perhubungan E.E Mangindaan nomor KP 725 yang dikeluarkan pada 14 Agustus 2014. 

Selain itu, akan dibangun jalan dua jalur selebar 30 meter,sepanjang 64 kilometer, sejak Lembah Sabih hingga Babahrot. Di beberapa tempat, kata bupati, bakal dibangun under pass atau terowongan. Contohnya, di jembatan Krueng Batee. “Supaya ketika jumlah kendaraan bermotor bertambah banyak beberapa tahun ke depan, tidak terjadi kemacetan,” ujarnya.

Lalu, pembangunan Pasar Modern Aceh Barat Daya di Gampong (Desa) Keude Siblah, Kecamatan Blangpidie. “Ini pasar modern pertama yang ada di Aceh,” ujar bupati. Pasar tiga lantai itu dilengkap beberapa fasilitasi seperti toko souvenir, peralatan rumah tangga, ritel pakaian dan elektronik, game zone, gudang, kantor pengelola dan musalla. 

Menurut bupati, konsep proyek monumental seperti itu dapat terus bertahan dan tidak akan diubah oleh pemimpin periode mendatang. “Saya yakin, ketiga proyek tadi akan dilanjutkan oleh pemimpin lain,” ujarnya.

Untuk menggagas lahirnya ketiga proyek pembangunan itu, kata bupati, selama ini ia giat melakukan lobi-lobi ke Pusat. “Alhamdulillah, berkat kerja keras kita semua, Aceh Barat Daya mendapat dukungan dana dari APBN Perubahan 2015 untuk pembangunan daerah ini,” ujarnya. 

Terkait hal itu, Bupati Jufri meminta peserta Musrenbang mengusulkan program-program yang sesuai dengan keinginan masyarakat dan karakteristik daerah. “Usulan diselaraskan dengan kebutuhan yang prioritas dan sesuai dengan kekuatan anggaran,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Bappeda Aceh Barat Daya, Weri, mengatakan Musrenbang bukan simbolis semata. “Tidak ada kegiatan di APBK (Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten) yang bukan dari usulan di Musrenbang,” ujar Weri.

Musrenbang Susoh yang terakhir digelar di tingkat kecamatan. Sebelumnya, Musrenbang tingkat kecamatan telah dimulai sejak 4 Februari 2015 di delapan kecamatan di Aceh Barat Daya. 

Munsrenbang ini, kata Weri, menampung usulan untuk program pada 2016. “Ada tujuh prioritas kita pada 2016 yakni peningkatan pertumbuhan ekonomi, investasi, perluasan lapangan kerja, pengembangan sektor strategis, kualitas pendidikan dan kesehatan, nilai-nilai syariat Islam, dan pelayanan publik,” ujar Weri.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply