Abu Doto, Pulanglah!

ABU Doto –Gubernur Aceh Zaini Abdullah– yang kami cintai, kami sungguh tak menyangka Abu tega meninggalkan kami. Di saat kami sedang bergelut dengan genangan banjir dan longsor yang mengurung langkah kami, Abu justru memilih meninggalkan kami. 

Tadi pagi, ketika Abu berangkat dari Meuligoe yang sejuk dan nyaman menuju bandara Iskandar Muda, Abu disopiri, nyaman dalam mobil mewah, ada vorijder yang bersuara nguing-nguing itu. Di bandara Abu langsung masuk ruang VVIP, dan mendapat layanan utama masuk ke kelas bisnis di pesawat Garuda.  

Tak apa, kami bangga juga melihat Abu nyaman, tenteram, dan sentosa begitu. Walaupun kami di sini lintang-pukang cari tempat berteduh karena hujan. Pontang-panting menyelamatkan diri dari hantaman banjir. Termehek-mehek menghindar dari reruntuhan tanah longsor. Tapi, kami ingin Abu datang melihat kami agar bisa melihat derita kami.

Ketika Abu terbang ke Jakarta, di sini kami ibarat anak yang kehilangan orang tua, Abu. Abu meninggalkan kami justru pada saat-saat genting. Padahal, kami hanya butuh sedikit perhatian, sekedar rasa empati terhadap apa yang kami rasakan. 

Kami tahu Abu ke Jakarta karena ada pertemuan dengan presiden, bersama para gubernur lain se-Indonesia. Tetapi Abu, seandainya Abu memang berniat bersama kami di sini, Abu bisa menelepon Pak Jokowi dan mengatakan, "Pak Jokowi, rakyat saya sedang butuh saya di sini. Saya harus blusukan menemui mereka." Jika itu Abu lakukan, percayalah, Pak Jokowi pasti bisa memahaminya. 

Barangkali Abu juga sedang mencari uang seperti orang tua yang mencari duit agar anak-anaknya mendapat uang jajan. Tetapi, dalam kondisi seperti ini,  uang tidak terlalu berguna, Abu. Kami hanya butuh dinaikkan semangat agar tetap tabah menghadapi semua ini. Menaikkan semangat, tentu bukan lewat sms atau kata-kata manis di media, Abu. Kami ingin agar Abu ada di sini bersama kami. 

Pulang, Abu. Pulanglah. Lihatlah kami di sini yang berjibaku dalam lumpur. Tengoklah kami yang hidup dalam gelap saat malam tiba. Listrik di kampung-kampung kita telah rubuh oleh badai, Abu. Anak-anak di kampung kita tak bisa belajar dan mengaji. Saat malam tiba, mereka menggigil kedinginan. Ketika fajar tiba, kami kebingungan bahkan tak tahu di mana mencari air untuk membasuh muka. 

Lihatlah mereka yang di Lhoong, Abu. Mereka tak bisa kemana-mana. Mau ke Banda Aceh, terjebak di Gunung Paro. Mau ke Calang, terhadang longsor di Geurutee. 

Abu, malam ini mungkin Abu bisa tidur nyenyak di Hotel Saripan Pacific, tempat Abu biasa menginap jika ke Jakarta. Di kamar president suite, Abu disuguhi pelayanan kelas satu ala VVIP hotel berbintang lima. Tapi jangan lupa Abu, uang untuk membayar hotel itu datang dari pajak yang kami bayarkan, juga dari hasil kekayaan alam di kampung kita yang dititipkan untuk Abu kelola, bukan untuk dihabiskan. 

Tapi di sini, malam ini kami menggigil kedinginan Abu. Bukan karena AC pendingin seperti di kamar tempat Abu menginap, tapi karena hujan badai yang terus mengguyur. Jika Abu tidur di kasur empuk, di sini kami tidur beralas kardus Abu.

Jika malam ini Abu dan keluarga, eh, kolega yang berangkat menikmati makan enak di Hotel restoran Hotel Saripan Pacific, kami di sini justru belum tahu makan di mana. 

Banjir dan longsor telah membuat pasokan barang terganggu, Abu. Kalau pun ada sisa kemarin, harganya sudah selangit. Mie instan saja, Abu, dari biasanya seribu per bungkus, malam ini dijual Rp2.500. 

Besok pagi, saat Abu bersiap-siap ke Istana dan dijamu makanan enak, di sini kami bahkan belum tahu dimana mencari air untuk mandi, Abu. Air sumur dan sungai di kampung kita telah bercampur tanah, Abu. 

Ketika Abu melintasi jalanan di Jakarta, tentu Abu melihat banyak jembatan dan jalan-jalan yang mulus. Mobil-mobil berkilau melintasi.  Berbeda dengan kami di sini, jangankan banyak jembatan jalanan pun banyak yang sudah amblas atau tertimbun tanah longsor. Kami terisolir dan tak tahu harus berbuat apa, hanya berharap pertolongan dan kemurahan hati dari saudara sebangsa dan setanah air. Tentulah harapan kami, Abu bisa memimpin tim untuk menolong kami.

Karena itu, Abu, pulanglah. Lihatlah kami di sini seperti kehilangan arah. Kehilangan orang tua. Kami tahu Abu telah menitipkan kami kepada orang lain. Tetapi Abu, kami yakin, Abu juga tahu amanah seringkali diabaikan di kampung kita. 

Oh ya Abu, kami dengar anggota DPD RI akan datang ke kampung kita besok. Aduh, kami malu Abu, sebab orang tua kami sendiri justru meninggalkan kami di saat-saat seperti ini.

Sekali lagi, pulanglah, Abu![]

 

Kiriman oleh atjehpost.com Community.

 

  • Uncategorized

Leave a Reply