Abi Lampisang-Suriansyah, Duet Mantan Kadhi Nanggroe dan Birokrat

Pasangan Teungku Ahmad Tajuddin—akrab disapa Abi Lampisang—dan Teuku Suriansyah mendapat nomor urut 1 dalam penetapan nomor urut calon gubernur pada rapat pleno Komisi Independen Pemilihan (KIP) di Hermes Palace Hotel Banda Aceh, 2 Januari 2012. Maju dari jalur perseorangan, pasangan ini adalah pendaftar kedua setelah Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan.

Sehari-hari Teungku Ahmad Tajuddin adalah Pimpinan Lembaga Pendidikan Islam Dayah Al-Muhajirin Tgk. Chik Di Ujeun Lampisang Tunong, Seulimeum, Aceh Besar. Penulis Kitab 'Ilme Jihad Bak Reot Uhw Endatu' ini lahir di Seulimum pada 15 September 1962.

Di usianya yang memasuki 50 tahun ini, suami dari Hazimah binti Mahmud Al-Fairusy Al Bagdady ini dikenal sebagai mubaligh. Setelah menyelesaikan pendidikan di Madrasah Aliyah Panton Labu, Abi Lampisang terlibat di beberapa organisasi sembari menimba ilmu agama pada ulama terkemuka Aceh seperti Teungku H. Muhammad Dahlan Bin Muhammad Ali (Abu Chiek Tanoeh Abe), Teungku Syeh Jalaluddin Bin syeh H. Hanafiah (Ayah Samalanga), Tgk H. Muhammad Amin (Abu Tumin) serta sejumlah para ulama Aceh lainnya.

Pengalaman organisasi juga lebih banyak berkutat di organisasi keagamaan diantaranya dipercaya sebagai Wakil Ketua DPW Rabithah Ma’hadiyah Islamiyah (RMI) dan mantan Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Aceh.

Dalam buku riwayat hidup yang ditulis tim suksesnya disebutkan, Abi Lampisang pernah menjadi Pembina Gerakan Aceh Merdeka (GAM), mantan Kadhi Neugara Aceh Sumatera Merdheka, mantan Imam Thaliban Lampisang Aceh, serta sejumlah pengalaman organisasi lainnya.

Masih menurut buku itu, Abi Lampisang disebut menimba ilmu politik dari Teungku Chik di Tiro Bin Muhammad Hasan (Wali Nanggroe) Alm, Datuk Muhammad Adi Wang Malaysia, Kyai H. Abdurrahman Wahid (Mantan Presiden R.I) serta sejumlah tokoh politik Aceh dan Indonesia lainnya.

Dalam hidupnya, Abi Lampisang juga telah melahirkan beberapa karya tulis yang diantaranya Kitab Ilme Jihad Reot Uhw endatu, Kitab Sirrul Akbar Lil Mujahiddin, dan Kitab Ilmu Sufi Ala Thariqati Syech Abdurrauf As-Singkili.

Sedangkan Suriansyah adalah mantan Direktur Utama pabrik kertas PT. Kertas Kraft Aceh (Persero) periode 2002-2007. Dunia politik tak asing lagi bagi pria kelahiran Lhokseumawe, 1 Mei 1954 ini. Lama di Golkar, ia pernah menjadi anggota MPR RI periode 1987-1992. Pada 1992-1999, ia menjadi anggota DPR-RI selama dua periode. Tahun 1999, masa Pemerintahan Gus Dur, Suriansyah menjadi anggota Tim Penasehat Presiden Urusan Aceh.

Di bidang organisasi, Suriansyah telah banyak makan asam garam. Ia pernah duduk sebagai Ketua Dewan pengurus Pusat (DPP) KNPI periode 1984-1987 dan periode 1987-1990, Anggota Dewan Penasehat KADIN Indonedia Pusat (2209-2010, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Instruktur Seluruh Indonesia (AISI) Periode 2004 – 2009 dan Periode 2009-2014, serta sejumah pengalaman organisasi lainnya.

Pendidikan Suriansyah diawali di SD Negeri 5 Lhokseumawe (1965) yang dilanjutkan di SLTP Negeri 1 Lhokseumawe. Sementara untuk tingkat SLTA, Suriansyah menyelesaikannya di SMA Negeri 3 Setia Budi Jakarta. Lalu Surinsyah melanjutkan kuliah di bidang Teknik Sipil (listrik) Universitas Indonesia serta melanjutkan S2 di bidang Ilmu Lingkungan Pasca Sarjana Universitas Indonesia.

Dengan latar belakang yang berbeda itu, apa sebenarnya yang membuat pasangan ini bergandengan tangan untuk maju ke pucuk Aceh-1?

Menurut Suriansyah, kesamaan visilah yang membuatnya merasa cocok maju mencalonkan diri bersama Abi Lampisang."Yang paling penting adalah persatuan. Jangan ada lagi pertangkaran di antara sesama orang Aceh, ini harus diwujudkan,” kata ayah tiga anak yang kini tercatat sebagai Anggota Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Kini, keduanya terus mempersiapkan  diri, mencurahkan tenaga dan pikiran menuju pesta demokrasi pada 9 April 2012 mendatang.[]

  • Uncategorized

Leave a Reply