Abdurrahman Rela Jadi Tukang Geumade Demi Sekolahkan Anak

Abdurrahman Rela Jadi Tukang Geumade Demi Sekolahkan Anak

PRIA paruh baya itu mengenakan kemeja lengan pendek berpadu celana jeans yang sudah memudar dimakan usia. Ia tak bisa berjalan normal dan hanya bisa meuseuk-seuk. Sepotong ban bekas ia gunakan sebagai alas duduk untuk menghindari gesekan.

Namanya Abdurrahman. Usianya baru 39 tahun. Pahitnya hidup seolah telah merampas sebagian usianya sehingga membuatnya terlihat lebih tua dari umurnya. Ia adalah warga Paya Demam Sa, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur.

Sehari-hari Abdurrahman bekerja sebagai tukang geumade atau peminta-minta di Aceh Timur. Ditemani sang anak, Maulana, yang masih berusia 13 tahun, setiap harinya Abdurrahman menyusuri lorong-lorong pasar untuk mengetuk hati orang-orang yang ditemuinya.

Karena kondisi fisiknya yang terbatas, Abdurrahman berjalan dengan mengandalkan tumpuan kedua tangannya. Kedua kakinya sudah tidak berfungsi normal lagi akibat kecelakaan kerja yang dialaminya beberapa tahun lalu. Pinggangnya patah sehingga membuatnya menjadi cacat seperti sekarang.

Dengan kondisinya itu ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa kebutuhan ekonomi keluarga harus tetap berputar. Asap dapur harus terus mengepul. Ia pun nekat menjadi peminta-minta yang berharap belas kasih orang lain. Kadang-kadang hasil yang diperolehnya hanya cukup untuk makan sehari-hari saja.

Abdurrahman memiliki lima anak, dua di antaranya sudah menikah dan tiga lainnya sedang sekolah di tingkat SMA dan SLTP di Pante Bidari. Ketiganya menjadi tanggung jawab penuh Abdurrahman. Mulai dari biaya pendidikan hingga uang jajan. Sementara istrinya sudah meninggal dunia sejak dua tahun lalu.

Long mita keu bu siuroe-uroe bang, dan aneuk long pih lam sikula, seandai jih kondisi long teuga long hana mita raseuki lagenyoe- saya cari untuk makan sehari-hari, anak saya sedang dalam pendidikan, seandainya saya sehat tidak mungkin saya cari nafkah seperti ini,” ujar Abdurrahman kepada portalsatu.com dengan raut sedih saat ditemui di depan salah satu toko di Idi Rayeuk, Aceh Timur, Senin, 24 Agustus 2015.

Setiap harinya, Abdurrahman baru mencari nafkah setelah anaknya Maulana pulang sekolah.

Long mita sumbangan tiep uroe ngon aneuk long nyoee, long preh woe sikula jih baro long jak- saya mencari sumbangan setiap hari dengan anak saya ini, saya tunggu dia pulang sekolah dulu,” kata Abdurrahman.

Abdurrahman tak ingin anaknya bernasib sama dengan dirinya, karena itulah ia menyekolahkan semua anaknya meski dengan ekonomi yang terbatas.

“Saya harap anak saya tidak merasakan apa yang saya rasakan, makanya mereka tetap harus sekolah supaya sukses.”

Melalui portalsatu.com, Abdurrahman menitip secuil pesan harapan agar pemerintah sudi memberinya bantuan berupa kursi roda agar ia tidak berjalan dengan cara meuseuk-seuk seperti saat ini.

Long harap beu gebi bantuaan kursi ruda saboh, bek lee long jak lagenyoe- saya harap diberikan bantuan kursi roda satu, biar tidak seperti ini saya berjalan,” kata Abdurrahman dengan penuh harap.[] (ihn)

Leave a Reply