5 Jenis tenaga ahli Indonesia yang dibutuhkan dunia

BADAN Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) menunjukkan, lebih dari 6,5 juta tenaga kerja Indonesia yang bekerja di 178 negara. Mereka bekerja di berbagai sektor dan terbilang sukses.

Sesungguhnya, Indonesia bisa dibilang tidak kekurangan tenaga kerja berkualitas. Asalkan tenaga kerja yang ada di dalam negeri bisa diberdayakan dan dimaksimalkan. Jika tidak, maka jangan heran jika negara lain yang akan 'memanen' tenaga kerja Indonesia.

Sebagian besar dari tenaga ahli asal Indonesia yang bekerja di luar negeri, umumnya pernah mengenyam pendidikan di luar negeri. Mereka belajar berbagai disiplin ilmu mulai dari pesawat terbang, perkapalan hingga industri strategis lainnya. Namun sayangnya, mereka yang sudah belajar di luar negeri justru tidak kembali ke tanah air dan memilih untuk bekerja di luar negeri.

Salah satu alasannya tentu masalah penghasilan. Tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri umumnya memperoleh penghasilan yang lebih besar dibanding jika mereka bekerja di dalam negeri.

Data terbaru dari Diaspora Indonesia, ada sekitar 8 juta tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri. Mereka berasal dari berbagai macam profesi mulai dari pengusaha, peneliti, mahasiswa, pekerja profesional hingga Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Dilihat dari negaranya, salah satu yang cukup gencar memburu tenaga kerja Indonesia adalah Jerman. Tenaga kerja asal Indonesia umumnya dipekerjakan di sektor industri. Salah satunya industri penerbangan. Tidak hanya Jerman, negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga ikut menikmati kecerdasan dan keahlian tenaga kerja Indonesia.

Di bidang apa saja tenaga ahli Indonesia banyak diminati dunia? Berikut merdeka.com mencoba merangkumnya.

Geologi

Saat ini tenaga kerja geologi di dalam negeri sudah menjadi pendamping tenaga asing. Bahkan di beberapa perusahaan nasional, ahli geologinya adalah warga Indonesia tanpa ada pekerja asing yang artinya pekerja. Dengan kata lain, tenaga geologi Indonesia sudah mampu menyamai kemampuan pekerja asing dalam mengoperasikan perusahaan migas, pertambangan serta riset.

Tenaga ahli geologi Indonesia juga sudah banyak yang bekerja sebagai ekspatriat di luar negeri. Mereka dihargai sebagai tenaga ahli yang hasil karyanya dihargai setara pekerja dari negara lain.

Ada ratusan tenaga ahli geologi Indonesia yang bekerja di luar negeri. Negara-negara yang mempekerjakan tenaga geologi Indonesia seperti Malaysia 120 orang, Amerika Serikat 50 orang, serta di Australia 100 orang rata-rata warga negara Indonesia tersebut sebagai pekerja tambang minyak.

Pertanian

Indonesia sebagai negara agraris, banyak menghasilkan tenaga kerja di sektor pertanian. Namun, data BPS yang terbaru menyebutkan bahwa jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor pertanian justru makin berkurang. Salah satu penyebabnya karena mereka mulai beralih ke sektor industri.

Padahal, tenaga ahli di bidang pertanian asal Indonesia banyak dibutuhkan negara lain. Semisal Malaysia, Korea, ataupun negara-negara Timur Tengah yang tengah mengembangkan sektor pertanian.

Malaysia berminat investasi pada sector peternakan, Korea tertarik agribisnis. Sedangkan negara Timur Tengah semisal Arab, Kuwait dan Qatar ingin membuka kawasan pertanaman padi yang mengincar tenaga ahli sektor pertanian.

Perminyakan

Banyak tenaga kerja perminyakan Indonesia yang memilih 'kabur' dan bekerja di luar negeri. Alasannya jelas, gaji sebagai engineer di luar negeri jauh lebih tinggi dibanding di dalam negeri. Deputi Pengendalian Bisnis SKK Migas, Lambok Hamonangan Hutauruk mengakui gaji engineer perminyakan di Indonesia kalah jauh dibandingkan luar negeri seperti negara di Timur Tengah. Di luar negeri, engineer digaji USD 6.000 atau sekitar Rp 65 juta per bulan atau sedangkan di Indonesia cuma USD 1.000 atau sekitar Rp 10 juta per bulan.

Ini aware bahwa sebagian bisa lolos fasilitas kerja, remunerasi jauh lebih baik di Indonesia. Gaji lebih kecil di indonesia. Umur 27 mereka bisa digaji USD 5.000-6.000 di sana. Di Indonesia USD 1.000 juta sudah bagus, kata Lambok di Kantornya, Jakarta, Senin (2/9).

Dia mengakui banyak engineer muda Indonesia yang ditarik keluar negeri dan kondisi ini tidak terelakkan. Apalagi sekarang sudah ada kumpulan pekerja Indonesia di luar negeri atau Diaspora yang memudahkan semua ini.

Kesempatan ditarik keluar mereka lari juga. Ga ada batas negara, ada Diaspora. Saya juga mengertilah, katanya.

Tenaga nuklir

Sumber daya manusia (SDM) bidang rekayasa nuklir di Indonesia hingga saat ini masih minim. Padahal kebutuhannya saat ini masih cukup besar.

Lulusan di bidang nuklir dari Indonesia banyak yang ditarik untuk bekerja di luar negeri dan dijadikan tenaga ahli. Salah satunya karena lulusan di bidang nuklir dari Indonesia memiliki kompetensi dan kualitasnya yang cukup mumpuni.

Indonesia sendiri tidak bisa berbuat banyak dengan munculnya persoalan ini. Salah satu negara yang disebut-sebut menjadi tempat bekerja bagi tenaga ahli nuklir asal Indonesia adalah Malaysia. Selain itu, ada pula Uni Emirat Arab yang membutuhkan banyak tenaga kerja asing karena tidak memiliki tenaga ahli sendiri.

Pesawat terbang

Mantan Presiden BJ Habibie adalah salah satu putra terbaik Bangsa Indonesia yang sempat bekerja dan mengembangkan industri penerbangan Jerman. Tidak dipungkiri, selain Habibie, ribuan orang tenaga ahli Indonesia terpaksa hengkang dari Indonesia dan memilih bekerja di berbagai industri penerbangan di luar negeri. Salah satu negara yang memanfaatkan tenaga ahli penerbangan Indonesia adalah Malaysia.

Atase Ketenagakerjaan Kedutaan Besar RI untuk Malaysia Agus Triyanto pernah menuturkan hal itu. Saat ini memang banyak tenaga kerja eks PT DI yang bekerja di malaysia. Bahkan baru baru ini ada sekitar 100 orang yang datang kesana, ujar Agus.

Malaysia memang membutuhkan tenaga ahli untuk pengembangan industri pesawat terbang. Semisal untuk pembuatan service center untuk pesawat terbang di Malaka dan Tanjung Kupang. | sumber : merdeka

  • Uncategorized

Leave a Reply