4 Karakter Pemimpin yang Layak Dipilih

Nasib Aceh lima tahun ke depan akan ditentukan pada 9 April 2012. Pada hari "H" pilkada 2012 itu rakyat akan memilih pemimpinnya. Sosok yang oleh pemilih dipandang bisa mewujudkan aspirasi mereka dan seluruh masyarakat Aceh.

Memilih pemimpin yang sempurna tidaklah gampang,. Kata ureung Aceh “lage geu loep lam ploek dawet." Bertambah sulit  karena mayoritas rakyat hanya mengenal calon melalui spanduk, baliho dan stiker-stiker atau iklan yang beredar selama masa kampanye.

Banyak alasan yang melatar belakangi seseorang menjatuhkan pilihan kepada salah satu kandidat. Ada yang memilih karena alasan sederhana, misal karena ketampanan. Ada juga yang memilih karna janji-janji. Bahkan ada juga yang memilih hanya karna 1 kg gula gratis.

Bagaimana dengan pilihan atas dasar visi dan misi? Sedikit. Buktinya, selebaran yang bertuliskan visi dan misi kandidat beserta uraiannya banyak dijumpai di pasar-pasar,  dipakai untuk membungkus cabe dan bawang, bukan untuk dibaca dan dipahami.

Kondisi ini mestinya bisa menjadi pembelajaran bagi para kandidat. Ternyata visi misi itu tidak perlu diuraikan dalam bentuk tulisan yang ilmiah dan panjang lebar, cukup dengan kata-kata sederhana yang mudah dicerna oleh masyarakat gampong., khususnya untuk saat ini.

Sepintas cara penyampaian visi misi secara sederhana terkesan kecil dan remeh sehingga cenderung diabaikan oleh kandidat yang berasal dari kelas menengah ke atas atau yang sering menyebut dirinya kelompok pintar.

Biasanya sesuatu yang dianggap kecil oleh kelompok pintar bisa jadi akan menjadi penentu kemenangan bagi kelompok yang dianggap bodoh. Tidak mengherankan ketika hari pemungutan suara berakhir dan penghitungan suara usai dilakukan justru yang tampil sebagai juara tetap saja kandidat yang berasal dari kelompok yang awalnya dianggap bodoh. Katakanlah kelompok yang selama ini dipersepsikan bodoh oleh sebahagian orang yang mengaku pintar adalah kandidat yang berasal dari Partai Aceh (PA).

Bisa jadi PA bodoh dimata orang yang mengaku pintar. Sama seperti dulu, saat PA masih sebagai GAM. Tapi dalam politik Aceh saat ini ternyata cara yang dianggap bodoh justru mampu menghasilkan sesuatu gerakan bersama yang kini hasilnya dinikmati oleh semua, termasuk mereka yang mengaku pintar.

Saya juga menduga pilkada kali ini akan dimenangkan oleh kandidat yang tampil dengan cara sederhana, berkarisma, dan santun serta menjadikan keteladanan sebagai media dalam mengkomunikasikan visi dan misinya. Sesuatu yang cocok dengan nalar masyarakat umum di Aceh. Siapa kandidat itu? Dialah yang memiliki 4 karakter berikut.

Pertama, dia adalah yang secara tegas menyatakan visi misinya secara sederhana. Misalnya "menjalankan UUPA yang sesuai Mou Helsinki." Sederhana saja kan. Visi ini hanya dalam satu tarikan nafas. Siapapun tahu, Itulah mimpi tertinggi yang bisa dicapai oleh Aceh. Lebih dari itu tidak mungkin alias cet langet. Janji kosong alias janji manis belaka dimusim pilkada.

Kedua, sosok yang kala dilihat memancar kharisma. Ungkapan kharisma di masyarakat bisa saja muncul dalam kalimat polos seperti "duh, tampannya," atau "meuwibawa keudeh." Sosok yang nyaris tak ada yang tidak mengenalnya. Kalau meminjam kata penyanyi Syahrini, sosok "sesuatu, ya." Disebut sesuatu karena lidah tidak cukup untuk menggambar dengan utuh, dan selalu ada yang "lebih" dari sosok yang dimaksud. .

Mungkin sesuatu itulah yang dimaksud oleh Max Waber sebagai karisma, yaitu sifat tertentu dari seseorang yang membedakan mereka dari orang kebanyakan dan biasa dipandang sebagai kemampuan atau kualitas. Waber benar karena di masyarakat sosok itulah yang ada dihati dan terekam dalam ingatan yang sangat mungkin menjadi penuntun saat berada di bilik suara nanti.

Sosok yang berkarisma itu bisa jadi juga tampil dalam karakter yang lemah lembut, penuh santun. Mengayomi kata saudara kita dari etnis Jawa. "Lage ayah droe teuh," kata kita di Aceh. Aceh memang butuh pemimpin yang menjadi sosok ureungtuha yang tidak sekedar dimarahi tapi juga membimbing dan melindungi atau mengadu. Aceh memang suatu wilayah yang terdiri dari berbagai suku dan karena itu pula Aceh mestinya ibarat sebuah rumah besar yang punya sosok ayah, sosok ibu, sosok abang bagi semua anggota keluarga.

Ketiga, dialah sosok yang membuka diri dengan semua orang dan senantiasa bermusyawarah. Terbuka artinya bersedia menjalin kerjasama dengan semua pihak dan tidak menjadikan dendam masa lalu sebagai halangan, dan senantiasa bermusyawarah untuk keperluan bersama.

Sosok yang beginilah yang paham bahwa salah satu ciri-ciri pemimpin yang bijak adalah pemimpin yang menjadikan musyawarah sebagai media untuk menjaring pendapat untuk menghasilkan kebijakan yang sesuai dengan kemauan rakyat. Bukan sosok yang antipati, menolak bertemu untuk musyawarah dan keluar dari jamaah kala tiada lagi bersepakat. Seperti yang telah Allah perintahkan kepada Rasulullah dalam (Q.S.Ali Imran 3:159).

Rasulullah tidak menetapkan sebuah keputusan, kecuali telah dimusyawarahkan dengan para sahabat.  Rasulullah menganggap bahwa keluar dari jamaah dan kesepakatan yang telah terbentuk dalam musyawarah, dan mengganti pendapat pribadinya adalah bentuk kemurtadan jahiliyah. Beliu bersabda: ”Barang siapa keluar dari ketaatan, dan memisahkan diri dari jamaah, kemudian ia mati, maka ia mati jahiliyah, ”.

Keempat, dialah sosok yang menjadikan teladan sebagai media komunikasinya. Teladan bukan sekedar contoh retorik tetapi mempraktekkan keteladanan yang dimulai dari pribadi. Ahli komunikasi modern menganggap suri teladan sebagai media komunikasi yang efektif guna mempopulerkan sebuah pemikiran atau produk baru, tanpa harus mengeluarkan tenaga ekstra.

Sungguh, testimonial seorang tokoh atas sesuatu merupakan "iklan" yang menarik untuk mengkomunikasikannya kepada masyarakat. Hal ini dikerenakan masyarakat cenderung mengikuti seorang figure yang memberikan teladan dan panutan dalam kehidupan mereka, baik untuk mengikuti, atau meninggalkan sesuatu.

Jika keempat karakter atau ciri tersebut kita cocokkan dengan 5 kandidat gubernur dan wakil gubernur Aceh, yang insja Allah akan dipilih pada 9 April 2012 maka saya pribadi menemukannya pada pasangan nomor urut 5. Bagaimana dengan anda? Jak "ta peu nyum-nyum ile seugalom ta pileh."


*Ibu Rumah Tangga

  • Uncategorized

Leave a Reply