4 Bisnis yang curi untung dari polemik lahirnya mobil murah

SEJAK awal diwacanakan, program mobil murah dan ramah lingkungan (Low Cost Green Car/LCGC) sudah menimbulkan pro kontra. Ada yang melihat program ini sebagai bentuk ketidakberpihakan pemerintah pada revitalisasi transportasi massal yang seharusnya lebih digalakkan. Namun, ada pula melihatnya dari sisi upaya menggerakkan roda perekonomian nasional.

Polemik semakin meruncing sejalan dengan lahirnya Peraturan Pemerintah nomor 41 tahun 2013 tentang mobil murah dan ramah lingkungan (Low Cost Green Car/LCGC) telah diteken Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu. Adalah Menteri Perindustrian MS Hidayat yang berdiri di garda terdepan dalam program mobil murah.

Produsen atau pelaku industri otomotif sumringah dan sudah ancang-ancang segera memperkenalkan ke publik mobil hasil produksinya yang sesuai dengan kantong masyarakat Indonesia. Muncullah beberapa jenis mobil murah yang dikeluarkan produsen otomotif raksasa seperti Toyota dan Daihatsu.

Pasar Indonesia yang besar dan pola konsumsi masyarakat yang tinggi, diyakini bakal membuat mobil yang harganya di bawah Rp 100 juta ini bakal laris manis. Ditambah faktor lain yaitu makin besarnya kelompok kelas menengah. Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, pihaknya optimis 75.000 mobil LCGC akan diproduksi sepanjang tahun ini. Dia menyebutkan, pangsa pasar mobil murah hampir mencapai 300.000 mobil per tahun.

"Setahu saya ada yang sudah melakukan stok. Pasarnya itu besar bisa 300.000 per tahun nantinya. Optimis bisa 75.000," ujar dia yang ditemui di Kantor Kementerian Perekonomian, Jakarta, Senin (8/7).

Lahirnya mobil murah langsung mendapat respons dari berbagai pihak. Salah satunya yang paling keras menolak adalah Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Dalam pandangannya, kebijakan ini salah kaprah dan berdampak buruk pada ibu kota. Lahirnya mobil murah diyakini menjadi masalah baru dalam pusaran persoalan kemacetan ibu kota. Jokowi tidak sendirian. Beberapa kepala daerah lain juga ikut angkat bicara dan menolak kehadiran mobil murah di daerahnya. MS Hidayat bergeming. Meski dihujani kritik dari berbagai pihak, program mobil murah melaju mulus di jalan raya.

Di balik memanasnya polemik lahirnya mobil murah, tidak dipungkiri ada pihak-pihak yang mendapat untung. Beberapa sektor bisnis di dalam negeri siap menghimpun pundi-pundi keuntungan dari mobil murah. Merdeka.com mencoba merangkum beberapa sektor bisnis yang mendapat angin segar dari polemik lahirnya LCGC. Berikut sedikit gambarannya.

Perusahaan otomotif

Sektor bisnis ini yang paling merasakan keuntungan besar dari program mobil murah. Produsen otomotif mulai berlomba-lomba memproduksi mobil yang harganya sesuai dengan kantong masyarakat. PT Astra Daihatsu Motor (ADM) pastikan Daihatsu Ayla sudah tersedia untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.

Presiden Direktur PT Astra Daihatsu Motor, Sudirman MR, mengatakan sejak diluncurkan pada 9 September 2013 lalu, Daihatsu telah menyiapkan 2.500 unit Daihatsu Ayla.

"Secara resmi kita pasarkan tanggal 9, kita sudah ready stock. Supply 2.500, siap jual," tutur Sudirman di IIMS JI Expo, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Bisnis spare part

Menteri Perindustrian MS Hidayat menuturkan, bisnis pendukung sektor otomotif akan diuntungkan dari program mobil murah mengingat mobil itu harus memakai komponen buatan dalam negeri. Dengam demikian akan tercipta kelengkapan struktur dan kemandirian industri komponen otomotif, terutama komponen utama: mesin transmisi dan poros roda.

Investasi di industri perakitan USD 3 miliar, industri komponen USD 3,5 miliar, lapangan kerja baru sektor manufaktur 30.000 orang, dan lapangan kerja baru sektor distribusi serta retail 40.000 orang.

"Sejak 2012, sudah lima industri perakitan mobil membangun pabrik baru dan 70 industri komponen membangun pabrik baru. Sebuah mobil rata-rata memerlukan sepuluh ribu komponen. Saat ini industri komponen tahap awal sudah siap. Pengembangan bagi produk-produk memerlukan presisi tinggi dikondisikan siap dalam lima tahun ke depan," ujar Hidayat beberapa waktu lalu.

Perusahaan ban

Tidak dipungkiri, salah satu sektor bisnis yang meraup untung dari kehadiran mobil murah adalah pembuatan ban. PT Multistrada Arah Sarana Tbk (MASA) memperkirakan pendapatan perseroan bakal meningkat 20 persen berkat program mobil murah atau Low Cost Green Car (LCGC). Saat ini MASA telah memperoleh pesanan ban untuk mobil LCGC dari Nissan, Suzuki dan Honda.

"20 persen diperkirakan peningkatan penjualan ban dari kontribusi pesanan LCGC. Kalau berbicara bisnis kita senang dapat proyek ban LCGC meskipun nantinya Jakarta macet akibat banyaknya mobil," ujar Presiden Direktur MASA, Pieter Tanuri saat konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Senin (7/10).

Pieter meyakini, hingga akhir tahun ini penjualan ban akan meningkat signifikan. Dengan kehadiran mobil murah, ditargetkan 7,5 juta ban mobil akan terjual hingga akhir tahun.

Ekspor

Kehadiran mobil murah juga disebut-sebut bakal menguntungkan dari sisi perdagangan internasional. Industri otomotif nasional mengaku siap mengekspor mobil murah ramah lingkungan (LCGC) pada tahun depan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Perindustrian MS. Hidayat di sela-sela pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) ke-21, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Tahun ini, produksi mobil murah ditargetkan hanya 30.000 unit. Total produksi nasional diperkirakan mencapai 1,2 juta unit dan yang diekspor hanya minibus. "Saya sudah bicara dengan Gaikindo mereka sanggup mulai 2014, mobil murah ini akan diekspor." kata Hidayat.

Menurut Hidayat, Gaikindo masih memerlukan waktu lebih lama untuk mencari pasar mobil murah di luar negeri. Rencana ekspor berkembang di tengah perdebatan bahwa mobil murah seperti Agya, Ayla dan Brio Satya bakal menambah kemacetan di kota-kota besar.

Pelaku bisnis otomotif meyakini, kemungkinan ekspor masih terbuka. "Peluang mengekspor Toyota Agya tetap terbuka," ujar Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM) Rahmat Samulo. Dia menyebutkan, negara yang menjadi sasaran pasar mobil ini yang antara lain wilayah Asia, Afrika, hingga Amerika Latin. | sumber : merdeka

 

  • Uncategorized

Leave a Reply