13 Wasiat Terlarang! Dahsyat dengan Otak Kanan!

Dari warnanya sudah eye catching. Dari bentuk hurufnya juga eye catching. Dari judul bukunya terlebih, sangat ear catching. Menjadi sebuah komposisi yang menarik, didukung dengan ukuran buku yang tidak lazim.

Apa sih wasiatnya? Apasih yang dilarang? Penasaran kan?

Begini ceritanya…

Alkisah, sang penulis Ippho Santosa berhasil mendapatkan Rekor Muri dari buku yang mengupas tuntas perihal otak kanan. Bagian otak yang dianggap kurang parlente dibandingkan dengan bagian yang lain; otak kiri.

Orang yang doyan matematika dikatakan sering menggunakan otak kiri dan biasanya didominasi oleh kaum laki-laki. sebaliknya, perempuan yang di stereotipkan sebagai orang yang kurang logis, berbelit-belit, melow, adalah makhluk hidup bernama manusia yang kerap menggunakan otak kanan. Kaum yang sedikit lebih rendah stratanya dibandingkan dengan kaum pengguna otak kiri (?).

Ippho sendiri menyeret kutipan yang menyinggung sisi sentimentil mayoritas orang Indonesia "Mulailah dengan yang kanan". Dalam agama, kanan menjadi simbol kebenaran. begitu juga dalam politik, kanan
adalah kamu yang mayoritas,  yang mana "biasanya' banyak sama dengan benar. Budaya kita juga selalu melebihkan kanan dari kiri, maka tidak heran kalau ada orang kidal dianggap gagap budaya, padahal ini jelas kasus yang berbeda.

Memang tidak mudah percaya pada rekomendasi para pembesar mengenai buku ini, sebut saja Hermawan Kartajaya yang mengatakan "Hanya untuk praktisi!" atau Safir Senduk sang maestro perencana keuangan yang memanas-manasi dengan kalimat "Saatnya karyawan menyaingi pengusaha, dengan kitab ini!" .

13 Wasiat Terlarang! Dahsyat dengan Otak Kanan!

Pastinya kata terlarang adalah kata yang meransang orang untuk melakukan sebaliknya, setidaknya itu kesimpulan beberapa referensi yang beredar dalam bentuk cetak atau digital. Penggunaan kata terlarang hanya sebangsa hipno agar orang tertarik mengetahui lebih jauh. sedangkan selebihnya adalah ringkasan dari isi buku dimaksud.

Ippho dengan gaya penulisan yang menyentuh market pasar mayoritas, kami nilai sukses menggaet minat targetnya. bahkan saya sendiri tidak segan merekomendasikan buku ini kepada orang lain, bahkan lebih banyak daripada buku sejenis yang telah saya baca. Kekuatan Ippho merangkai kata menjadi bahasa yang mudah dicerna , pastinya ini tidak mudah.

Melahirkan jalinan emosional antara buku tersebut dengan pembaca, bahkan dengan sang penulis. Seakan sang penulis hadir langsung menjelaskan dengan gayanya kepada para pembaca. Semakin dibaca semakin ingin lagi dan ingin lagi. Tak percaya? coba buktikan dengan membacanya!

Dengan metode demikian, pembaca secara mudah memahami maksud penulis dan segera menerapkan. Otomatis pula maksud penulis segera tercapai; membuat hidup pembaca lebih indah dari sebelumnya. Beberapa kunci 13 wasiat dimaksud; humor, story, metaphor, creativity, intuition, synthesis,empathy, hospitality, gratitude, meaning.

Sisanya mana? baca bukunya dong!. Ayo ngaku kalau kita sering luput memperhatikan 13 wasiat ippho yang terlarang ini. Seringnya kita terpaku pada angka-angka yang saklek.

Coba saja tanya : apakah yang membuat anda akan bahagia…setumpuk rupiah atau sekelebat pelukan hangat? sesuatu yang menyentil sisi emosional seseoranglah yang menjadi sasaran Ippho.

Betapa sebait humor yang dibacakan dalam pertemuan penting akan mencairkan suasana yang mempermudah penarikan kesimpulan. Kreatifitas dalam menjalankan hidup, mencari jalan keluar, membuka sebanyaknya faktor peluang, justru menjadikan kita kaya, bukan sebaliknya. Buku ini terlihat memperumit hidup kita, membuat proses perjalanan menjadi lebih berbelit-belit.

Tetapi sesungguhnya Ippho sedang menularkan penyakit menghargai sebuah proses dan menikmatinya.

13 Wasiat Ippho penting untuk dimaknai sebagai penyeimbang kehidupan yang tidak mudah menjadi berwarna, menarik, menantang, menyenangkan. Akhirnya buku ini bisa menjadi hadiah berharga bagi orang tersayang disekitar kita. Setelah membaca buku ini kita seperti mengenakan kacamata baru dalam menjalani hidup. Hambatan terlihat sebagai peluang. Kita akan menjadi orang yang pandai bersyukur dan menghargai. []

  • Uncategorized

Leave a Reply