12 Mei 1998, Tragedi Trisakti

REFORMASI 1998 harus dibayar mahal. Tragedi Trisakti yang terjadi 15 tahun lalu adalah salah satu upeti yang harus dibayar untuk mendapatkan reformasi. Selasa sore, 12 Mei 1998, 6 mahasiswa Trisakit tewas meregang nyawa di ujung peluru TNI dan polisi. Selain mereka, puluhan lainnya juga ikut luka-luka.

Kejadian berawal ketika ribuan civitas akdemika kampus Universitas Trisakti berkumpul di pelataran parkir kampusnya dan melakukan orasi. Hari itu, mereka berencana mendatangi gedung MPR/DPR untuk menyampaikan aspirasi mereka tentang kondisi Indonesia yang semakin morat marit karena krisis ekonomi. Koran Kompas edisi 13 Mei 1998 menulis, panggung orasi di kampus itu rencananya mengundang Jenderal Besar AH Nasution, tapi kemudian tidak datang.

Dalam orasi panggung itu juga hadir Pembantu Rektor III Universitas Trisakti I Komang Suka Arsana, Dekan Fakultas Hukum Adi Andojo dan juga Dekan Fakultas Ekonomi.

Sekitar pukul 13.00 Wib, ribuan massa yang bergerak dari dalam kampus tersebut terhadang aparat keamanan tepat di depan gedung Wali Kota Jakarta Barat. Massa hanya diperbolehkan melakukan orasi di atas badan jalan S Praman yang berjarak 300 meter dari kampus Trisakti. Polisi tidak mengizinkan mereka melanjutkan longmarch ke gedung MPR/DPR dengan alasan merusak fasilitas jalan dan menggangu ketertiban umum.

Saat itu, aparat keamanan dipimpin Komandan Kodim Jakarta Barat Letnan Kolonel Inf. A Amril dan Kapolres Jakarta Barat Lentan Kolonel Polisi Timur Pradopo yang saat ini menjadi Kepala Kepolisian Republik Indonesia.

Hingga pukul 17.00 Wib, suasa berjalan tertib walau aparat keamanan terus menambah pasukan dari Kodam Jaya dan juga Polda Metro Jaya.

Ketika ribuan massa mahasiswa ingin kembali ke kampus suasana baru memanas ketika salah seorang yang mengaku alumni Universitas Trisakti meneriaki mahasiswa dengan kata-kata kotor. Mahasiswa yang terpancing mengejarnya dan lari ke dalam barisan aparat keamanan.

Walau kemudian kejadian itu bisa ditenangkan oleh pimpinan aparat keamanan dan juga pimpinan kampus Trisakti, kejadian serupa terulang lagi. Entah siapa yang memulai, beberapa aparat keamanan yang ingin kembali mengeluarkan kata-kata kotor kepada mahasiswa.

Bagaimana petir di sore hari, senjata pun menyalak. Beberapa penembak jitu yang sudah bersiaga dari atap gedung yang berada di kawasan itu juga tidak tinggal tiam. Mahasiswa marah, mereka mengambil batu melempar aparat keamanan yang kemudian berbalas peluru.

Mahasiswa lari ke dalam kampus, menyelamatkan diri ke dalam ruang-ruang kelas. Aparat keamanan juga tidak tinggal diam, mereka mengejar mahasiswa hingga ke dalam kampus. Beberapa orang dosen mengatakan aparat keamanan juga menembaki dinding-dinding kaca di dalam kampus.

Hingga malam hari, suasa masih mencekam. Mahasiswa baru bisa keluar dari kempus sekitar pukul 22.00 setelah komandan aparat keamanan menjamin keamanan mereka. Anggota Komnas HAM Marzuki Darusman juga datang ke kampus tersebut.

Rabu dinihari pukul 01.30 Wib Panglima Kodam Jaya Mayor Jenderal TNI Sjafrie Sjamsoeddin dan Kepala Polisi Daerah Metro Jaya Mayor Jenderal Hamami Nata menggelar jumpa pers di Polda Metro Jaya.

Seperti dikutip Kompas, Rabu dinihari itu, Kapolda Mayor Jenderal Hamami Nata mengatakan polisi hanya menggunakan tongkat, peluru kosong, dan gas air mata. [](ma)

  • Uncategorized

Leave a Reply